Pengantar Sistem Pendukung Keputusan

Pengertian Keputusan

Aspek penting sebuah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah keputusan. Keputusan adalah suatu pilihan dari berbagai macam alternatif yang diambil berdasarkan kriteria dan alasan yang rasional. Proses pengambilan keputusan sering disebut juga sebagai penyelesaian suatu masalah. Vercellis (2009: 24) menggambarkan proses pengambilan keputusan atau penyelesaian masalah dengan diagram alir berikut ini.

Berdasarkan diagram diatas, terlihat bahwa suatu keputusan diambil berdasarkan alternatif yang ada dengan berpedoman pada kriterianya.

Sistem Penunjang Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) merupakan sistem informasi interaktif yang berfungsi membantu manajemen dalam mengambil keputusan menggunakan pemodelan data / peralatan data analisis sebagai dasar pengembangan alternatif yang dapat digunakan pemakai.

SPK/DSS dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem berbasis teknologi informasi yang mampu memberikan serta mendukung kemampuan pemecahan masalah / kemampuan pengkomunikasian masalah semi terstruktur dalam suatu organisasi / perusahaan.

SPK merupakan aplikasi interaktif berbasis komputer yang mengkombinasikan data serta model matematis untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam menangani suatu masalah. Hal yang harus ditekankan adalah SPK bukanlah suatu sistem untuk mengambil keputusan secara langsung, akan tetapi sebagai pendukung pemegang keputusan dalam proses pengambilan keputusan. Vercellis (2009: 36) menyebutkan bahwa ada tiga aspek utama dalam SPK yaitu data, model matematis dan antarmuka pengguna.

Sistem ini menggunakan dan memanfaatkan data dan model yang diinput oleh pengguna untuk menyelesaikan masalah-masalah dan memberi solusi alternatif sehingga memudahkan pengambilan keputusan suatu masalah.

Jenis keputusan sendiri dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Keputusan terprogram, yaitu keputusan yang dirumuskan dengan cermat dan bersifat berulang sehingga dapat dirumuskan terkait aturan keputusan atau algoritma keputusannya.
  2. Keputusan tidak terprogram, yaitu keputusan yang bersifat tidak sering diulang atau dapat dikatakan keputusan ini sangat berbeda di setiap pengulangannya, sehingga tidak dapat dibuat suatu model umum sebagai suatu dasar untuk memogramnya karena membutuhkan analisa baru untuk setiap kejadiannya.

Jenis-Jenis SPK

SPK dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa jenis kriteria yaitu berdasarkan hubungannnya dengan pengguna, berdasarkan cakupannya, berdasarkan tujuan, berdasarkan jenis pengguna, berdasarkan komponen yang dominan dan pengendali pendukung keputusan, serta masih banyak lagi.

Jenis SPK berdasarkan teknologi dominan yang digunakan untuk menyediakan dan memfasilitasi dukungan pengambilan keputusan, Power (Mora, 2002: 23) mengemukakan bahwa ada lima kategori SPK berdasarkan hal tersebut yaitu : communication-driven, data-driven, document-driven, knowledge-driven, dan model-driven.

Tujuan Sistem Penunjang Keputusan (SPK)

Tujuan utama dari pengembangan aplikasi sistem penunjang keputusan (SPK) ini tidak dimaksudkan untuk mengotomatisasikan pengambilan keputusan, tetapi untuk memfasilitasi perangkat interaktif yang digunakan oleh pengambil keputusan untuk melakukan berbagai analisis menggunakan model-model yang tersedia. 

Sementara itu tujuan detail dari sistem penunjang keputusan adalah sebagai berikut :

  1. Membantu manajer perusahaan atau organisasi dalam pengambilan keputusan atas masalah semiterstruktur.
  2. Mendukung pertimbangan manajer dan bukan dimaksudkan untuk menggantikan fungsi manaje.
  3. Meningkatkan efektifitas keputusan yang diambil manajer daripada perbaikan efisiennya.
  4. Memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat dengan biaya yang rendah.
  5. Meningkatkan produktivitas perusahaan.

Karakteristik SPK

Berikut ini adalah sejumlah karakteristik dan kemampuan SPK yaitu:

  1. SPK merupakan sistem berbasis komputer dengan antarmuka antara mesin/komputer dengan pembuat keputusan.
  2. SPK bersifat adaptif dan interaktif serta antarmuka yang mudah digunakan.
  3. Pembuat keputusan memiliki kewenangan penuh untuk mengontrol seluruh tahap dalam sistem penunjang keputusan.
  4. SPK mampu memberikan solusi atas masalah yang tidak terstruktur baik bagi perorangan atau kelompok.
  5. Dalam penggunannya, SPK membutuhkan komponen seperti data, basis data (database), dan metode analisis keputusan.
  6. SPK mampu beradaptasi setiap saat dan bersifat fleksibel.
  7. Sistem ini hanya membantu menyediakan alternatif pilihan solusi bagi pembuat keputusan untuk  menyelasaikan permasalahan, bukan menjadi pengganti posisi manusianya sebagai pembuat keputusan.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Penunjang Keputusan

 Adapun kelebihan dari sistem penunjang keputusan ini adalah sebagai berikut:

  1. SPK menghemat waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan suatu permasalahan,
  2. SPK mampu menghasilkan solusi dengan lebih cepat dengan hasil yang dapat dipercaya,
  3. SPK mampu menyajikan berbagai alternatif atau pilihan-pilihan solusi yang dapat diambil,
  4. SPK mampu menyajikan bukti atau data tambahan sehingga dapat mendukung posisi pengambil keputusan.


Sementara itu kekurangan dari sistem informasi ini adalah sebagai berikut:

  1. Hal-hal yang bersifat kemampuan manajemen dan bakat manusia tidak dapat dimodelkan dalam sebuah sistem,
  2. Kemampuan SPK terbatas hanya pada pembendaharaan informasi atau pengetahuan yang tersimpan,
  3. Kecepatan proses atau performance tergantung pada software dan hardware yang digunakan,
  4. Tidak memiliki kemampuan intuisi (berpikir) seperti pada manusia.

Proses atau Tahapan dalam Sistem Penunjang Keputusan

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam proses permodelan pada pembangunan suatu sistem penunjang keputusan adalah sebagai berikut :

  1. Tahap pemahaman (inteligence phase), yaitu aktivitas menyelidiki lingkungan kondisi-kondisi yang memerlukan keputusan. Pembuat keputusan akan mengumpulkan sejumlah informasi dan data mentah, kemudian data tersebut diolah dan diperiksa untuk dijadikan petunjuk yang dapat menentukan masalahnya.
  2. Tahap perancangan (design phase), yaitu menemukan, mengembangkan, dan menganalisa arah tindakan yang mungkin dapat dipergunakan dalam menyelesaikan masalah. Hal tersebut merupakan aktivitas dalam memahami masalah, untuk menghasilkan cara pemecahan, dan untuk memvalidasi dan memverifikasi  apakah cara pemecahan tersebut dapat dilaksanakan.
  3. Tahap pemilihan (choice phase), yaitu memilih arah tindakan tertentu dari semua arah tindakan yang ada.
  4. Tahap impelementasi (implementation phase), yaitu setelah menentukan pilihan arah tindakan kemudian pada tahap ini dilakukan penerapan terhadap alternatif tindakan yang telah dipilih pada tahap pemilihan.

Contoh Kasus Sistem Penunjang Keputusan

  • Sistem Penunjang Keputusan Penerimaan Calon Mahasiswa Baru Jurusan Manajemen Bisnis

Untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), calon mahasiswa dapat mengikuti serangkaian proses seleksi seperti SNMPTN, SBMPTN, hingga seleksi mandiri. 

Untuk mendapatkan mahasiswa yang nantinya mampu menyelesaikan pendidikannya dan unggul dalam dunia kerja, maka pihak penyeleksi menyusun beberapa kriteria dalam tesnya.

Pemecahan masalah:
Untuk mendapatkan mahasiswa yang memiliki minat dalam dunia manajemen bisnis, berikut ini adalah kriteria penilaian yang dilakukan:
1. Menentukan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk Jurusan Manajemen Bisnis, yaitu penentuan variable-variable data yang dibutuhkan, penentuan aspek yang dibutuhkan untuk penelitian, penentuan nilai tertinggi dan nilai terendah. Kemudian akan didapatkan nilai perbandingan nilai tertinggi dan terendah.

2. Dari nilai-nilai tersebut kemudaian dikelompokkan dan diseleksi lewat Tes Potensi Akademik (TPA), tes minat bakat, tes kemampuan dasar sosial humaniora (soshum), serta uji keterampilan calon mahasiswa.

Itulah sistem penunjang keputusan yang perlu dikembangkan dalam penentuan calon mahasiswa baru.

Setiap pengambil keputusan memiliki metode tersendiri dalam memahami informasi yang berpengaruh terhadap efisiensi pengolahan informasinya. Pengetahuan seseorang yang digabungakan dengan kecakapannya dalam mengolah informasi akan menentukan kesanggupannya untuk mengambil keputusan dan memilih alternatif solusi yang terbaik.

Itulah ulasan mengenai apa itu sistem penunjang keputusan, tujuannya, proses dalam sistem penunjang keputusan, dan langkah-langkah dalam pemodelan sistem penunjang keputusan. Dukungan sistem informasi untuk manajer di dalam sebuah perusahaan sangatlah penting dalam berbagai kasus ataupun pengambilan keputusan di dalam perusahaannya. Sistem penunjang keputusan dapat didesain sesuai dengan perusahaan. Sistem ini akan membantu pengambil keputusan dalam mengenali masalah dan kemudian memformulasikan data pendukung untuk keperluan analisis dan pengambilan tindakan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *